Kamis, 30 Mei 2013

Fix you




----

Udara malam ini sangat luar biasa dingin, menusuk hingga tulang, pori-pori kulit seakan tidak menerima cuaca malam ini. Nafas yang mengeluarkan asap tipis. Malam yang sangat dingin. memasuki awal musim gugur pertama.
       Gadis itu masih mengenggam satu cup kertas coklat panas yang beberapa menit ia beli. Sudah satu jam ia menunggu kekasihnya ditaman yang kekasihnya janjikan. Hari Anniversary 3 tahun hubungannya dengan sang kekasih.
        Ia mendengus sebal.
        Seharusnya memang ia tidak perlu datang jika akhirnya begini.
        Ia melangkahkan kakinya meninggalkan taman yang sudah sepi, ditambah udara malam yang akan membuatnya mati membeku.

***

        Selamat hari 3tahun Anniversary sayang, aku harap kau tidak lupa merayakannya malam ini ditaman yang kau janjikan. I'll wait you. Xo

Your love
  Stella

        Sial! Pria itu merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya. Kenapa bisa dia lupa janjinya sendiri? Pesan dari kekasihnya kemarin.
        Bodoh!
        Ia langsung sigap mengambil jaketnya dan kunci motornya.

***

        "Stella, kuharap malam ini kau tidak ada acara," gadis itu terpengah kaget, "Ha? Oh ya, aku sedang tidak sibuk malam ini. Memang ada apa?" Stella--gadis itu menjawab dengan kikuk. "Aku punya dua tiket acara Pameran Musik malam ini, maukah kau pergi bersamaku?"
        Stella mendesis dalam hati, bingung. Apa harus ia menerima ini? Dalam hatinya berteriak-- bahkan hampir melompat senang. Idola atlet kampusnya--termasuk dirinya, mengajaknya kencan. Oh tunggu, apakah ini dinamakan kencan? Gila.
        "Baiklah," ia menjawab dengan lirih, "Benarkah? Aku akan menjemputmu jam 7 malam," Stella hanya mengangguk mengiyakan. "Baiklah Mike, aku harus pergi." Stella membawa buku tebal dalam dekapannya. "Baik, hati-hati Stella,"
        Astaga! Hatinya bersalto ria sekarang.

***

        "You look so bad, mate." Tepukan dibahunya membuatnya tersadar. Dia seperti mayat hidup sekarang! Mengerikan. Kantung mata terlihat jelas dimatanya. "Kau sedang ada masalah?"
        Pria ini mengerang lalu meneguk alcohol yang ia pesan. "Hei! Jangan minum lagi. Ceritakan apa yang terjadi,"
        "Aku sedang dalam masalah Niall!" Pria itu mengerang lagi. "Dengan Stella?" Tanya Niall. Pria itu menganggukkan kepalanya.
        "Justin, cobalah telpon dia. Seperti baru pacaran saja," Niall mengeleng kepalanya heran. "Sudah, tapi tidak berhasil. Dia kuliah hari ini,"
        "Nanti malam kerumahnya saja," Mendadak kepalanya yang sedari tadi ditundukkan, menjadi tegak sempurna. "Kau benar! Ah, terima kasih banyak Niall," teriaknya riang.

***

       Stella sudah selesai berdandan cantik hari ini, dengan dress selutut bermotif bunga-bunga berwarna cerah, flatshoes yang hampir serupa warnanya, tas selempang biru dongkernya, rambut clurynya ia biarkan digerai dengan rapi, dan makeu-up natural. Perfect!
       Sebentar lagi Mike akan datang.
       Ketukan pintu kamarnya terdengar berkali-kali. "Stella, temennya tuh," teriak Shelia--adiknya membuatnya sedikit muak. Tidak sopan. Stella lantas membuka pintu kamarnya melihat adiknya mendelik kesal. "Baiklah," jawabnya gugup. Ada apa dengannya? Seperti kencan pertamanya dengan Justin.
       Sudah seharian dia tidak mengecek ponselnya, ponselnya lowbatt. Apakah Justin peduli? Mendadak Stella membeku ditempat, dengan gerakan tiba-tiba, dia masuk kembali kedalam kamarnya lalu mencharge iPhonenya.

***

        Justin bersenandung riang menuju perumahan Stella, dia sudah merencanakan akan membahagiakan Stella hari ini.
       Pacar tercantiknya.
       Didepan rumah Stella terparkir mobil Audi silver dengan cantik. Siapa? otak Justin mempertanyakan semua.
       Dengan cepat ia memparkir mobil RRnya disamping mobil Audi.Dengan tergesa-gesa ia memasuki rumah Stella.
       Tubuhnya seakan mati rasa. Hatinya langsung patah seketika, wajahnya memerah menahan emosi dang tangis. Gila! Dia syok.
       Stella berciuman dengan Mike? Musuhnya sendiri.
       Dengan emosi yang memuncak, ia berjalan mendekati Stella dan Mike. Justin menarik Mike kasar melepaskan ciuman panasnya.

***

       Stella menyalakan iPhonenya yang sudah seharian ini mati.
       25 pesan, 50 panggilan tak terjawab, Dan semua dari Justin. Diam-diam Stella tersenyum. pacarnya masih perhatian.
       Setelah membuka pesan tanpa membalasnya, Stella kebawah untuk menemui Mike yang sudah menunggunya.
       "Hai, maaf menunggu lama," ucap Stella lembut disertai senyum termanisnya. "Tidak apa-apa," jawab Mike lembut. "Kau cantik malam ini." Lanjut Mike lagi, pipi Stella merah merona. Astaga! Hampir mati kutu dihadapan Mike.
       "Terima kasih, kita berangkat sekarang." Ujar Stella. Tiba-tiba langkahnya oleng seketika, Mike dengan sigap menangkap tubuh mungil Stella.
        Mata mereka beradu. Wajah Mike semakin lama, semakin dekat. Stella bingung sekaligus khawatir dihatinya. Ia merasakan bibirnya basah. Ini bencana besar! Mike mencium Stella?
        Mike memperdalam ciuman mereka, Stella mencoba memberontak dalam ciuman panas mereka. Ini semua salah, teriak Stella dalam hati.
        Ia sudah tidak merasakan bibirnya basah kembali, ia mendengar umpatan kasar dan pukulan mengerikan dari Justin.
        Bagaimana bisa Justin kerumahnya?
        "Hentikan Justin!"
        Teriakan Stella bagaikan angin lewat bagi Justin, ia tidak mau mendengarkan, ia menambah pukulan hebatnya kerahang Mike.
        "CUKUP JUSTIN!" Teriak Stella kini lebih mengelegar indra pendengaran Justin. Ia mengehentikan aksi brutalnya. mencoba menatap Stella.
        Stella menangis. Justin merutuki dirinya, sudah membuat kekasihnya menangis, akibat ulah bodohnya. Dengan sigap Justin berjalan menuju Stella, lantas memeluknya erat. Sangat erat. "Maafkan aku. Aku mencintaimu." Ujar Justin lirih.
        Stella mendengarkannya, membuat tangisnya semakin pecah dipelukan hangat Justin. Aroma yang ia rindukkan belakangan ini kekasihnya. Belahan jiwanya, Nafasnya. Justin.
        "Maafkan aku, aku lebih mencintaimu, Justin." Isak Stella. Dua sejoli ini saling menumpahkan rasa rindu mereka, tanpa memperdulikan Mike yang sudah terkapar tak berdaya, dengan luka biru dan darah dimukanya.

***

        Aroma coffee langsung memasuki indra penciuman gadis ini. Ia berjalan dengan modis menuju meja pojok dekat kaca.
        Kekasihnya menunggunya. Gadis itu mendudukan bokongnya disofa coklat susu yang luar biasa nyaman. "Sudah lama ya? Maaf menunggu." Gadis itu memamerkan senyum tercantiknya.
       "Dasar! Tidak pernah berubah." Celetuk sang pria, lalu mereka tertawa renyah. "Ingin pesan apa?" Tanya kekasihnya.
       "White Coffee, Please." Pria itu memanggil pelayan untuk membuat sebuah coffee. "Bagaimana keadaan Mike?"
       "Dia sudah membaik, kau memukul sangat kencang, Just."
       "Aku hanya kesal padanya, mencium wanitaku sembarangan," pria itu mendengus sebal.
       Pesanan mereka datang. Keduanyasaling diam dan meminum coffee mereka masing-masing. "Aku mecintaimu Stella. Aku berjanji tidak akan lupa Anniversary kita lagi," Stella tertawa pelan, "Aku lebih mencintaimu Justin. Aku pegang janjimu, Honey." mereka tertawa bersama di kedai coffee favorite mereka.
       Saling mengucapkan cinta. Lupakan masalah yang ada, menyusun kisah mereka lagi. Saling berpengangan tangan, mengisi kekosongan dan kehampaan.



The End.

----

Ok. Fyi, ini cerita pasti abal banget yaa.. Hehe. harap maklum, ini cerita pertama yang saya buat. Btw, terima kasih yang sudah mau mampir dan baca. maaf kalo banyak typo(s) bertebaran.
mungkin ini pendek ya._.V
lain waktu lagi, bakal post cerita lagi. Tunggu aja^^
kecup dan peluk. Power love, Tasya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar